Kamis, 31 Januari 2013

Mawar Jepang "Nasionalisme Bukan Milik Para Lelaki Saja"




Judul
Mawar Jepang

Penulis
Rei Kimura

Genre

Novel Romantic
Penerbit

Gramedia


Jumlah Halaman

294

Tahun Terbit

2011 (Cetakan ke-1)

Rei Kimura

Dalam dunia peperangan sudah tidak asing apa bila panggilan tugas turun ke medan tempur diwajibkan untuk para pria. Apa lagi jika perang tersebut telah terjadi berpuluh-puluh tahun yang lalu dimana patriarki masih dijunjung tinggi. Saat itu kaum wanita tak lebih menjadi sosok yang akan menangisi kepergian ayah, suami, atau kekasih mereka yang turun ke medan tempur. Tak banyak pilihan perjuangan nasionalisme yang dapat ditunjukan para wanita di kala perang selain dengan menjadi pekerja di pabrik seragam militer, bekerja di ladang, dan yang paling dekat dengan lingkugan militer adalah menjadi perawat. Jangankan mengemudikan pesawat Kamikaze, masuk area kemiliteran saja itu hampir-hampir tidak mungkin. Batasan gender tersebut ditentang habis-habisan oleh Sayuri Miyamoto.

Tahun 1941, ketika pengumuman bahwa Jepang berhasil mengebom pangkalan perang Amerika berkumandang melalui radio milik keluarganya, Sayuri tahu bahwa di dalam lubuk hatinya diam-diam ia merasa bangga dan ingin turut andil dalam euforia perjuangan patriotisme bangsanya. Ibunya sendiri tidak menyukai perang karena takut anak lelaki satu-satunya, Hiro (adik Sayuri), dipaksa masuk golongan orang wajib militer. Namun kota mereka sangatlah jauh dari kota besar hal tersebutlah yang membuat hati ibu Sayuri tidak terlalu gelisah. Sayangnya rasa aman tersebut tidak bertahan lama karena kian hari pesawat militer Jepang kian sering mengepulkan asap hitam di atas kota mereka. Ketika melihat pesawat tempur tersebut lewat, Sayuri seolah mendapat ide brilian yang gila. Ia ingin sekali suatu hari dapat bergabung dalam angkatan udara dan mengemudikan pesawat tempur untuk Jepang. Namun sudah seperti yang diketahui bahwa orang-orang yang boleh masuk kemiliteran adalah pria saja.

Saat perang semakin memanas, dimana serangan bangsa Amerika semakin membabi buta. Sayuri pergi ke Tokyo untuk menemani sahabatnya, Reiko. Reiko mencari Yukio,kekasihnya, yang pergi ke medan perang. Selama di Tokyo, Sayuri dan Reiko bekerja sebagai perawat. Mereka terpaksa tinggal di ruang sempit yang lembab dan futon yang kusam dengan beberapa perawat lainnya. Belum lagi mereka harus merawat para tentara yang terkena bom sehingga tubuhnya terkoyak. Mereka harus terbiasa dengan ceceran darah, potongan-potongan tubuh, serta mayat-mayat yang sudah tidak dapat dikenali lagi.

Epik percepat cerita sampai pada tekat bulat Sayuri ingin menjadi tentara kamikaze. Kematian Hiro dan Reiko yang mengenaskan akibat bom-bom Amerika membuat Sayuri nekat masuk ke kamp tentara kamikaze. Kamikaze memiliki arti Dewa Angin, terinspirasi pada kisah Dewa Angin yang menyelamatkan Jepang dari serangan Mongolia di jaman Kamakura. Tentara kamikaze sendiri adalah tentara pesawat tempur berani mati dengan menabrakan pesawat tempur mereka langsung ke pesawat musuh yang mengudara menuju Jepang. Lalu bagaimana lika-liku Sayuri membalaskan dendamnya? Baca ya KIKOSer~

Epik rasa novel ini cukup kreatif dengan menghadirkan wanita sebagai tokoh perjuangan di era Perang Dunia kedua. Begitu banyak kisah menyentuh yang dihadirkan novel ini. Seperti kisah Reiko yang memberikan tubuhnya kepada lelaki hidung belang demi mendapatkan sepeda agar ia dan Sayuri bisa berkendara mencari Hiro ke kamp. Epik bener-bener terharu loh... (TTATT)/

Menurut Epik kisah ini terkesan cepat dan sedikit ngebut gituh... Selebihnya si oke-oke aja... Romantis juga loh... Apa lagi ketika Sayuri bertemu tambatan hatinya di kamp tentara kamikaze. Bener-bener so sweet... Ala Romeo Juliet lo... Hehehe...





Tidak ada komentar:

Posting Komentar