Selasa, 02 Juli 2013

Cerpen: Angkuh Angkara



Hehehe Epik kali ini nge-post cerpen tugas pelajaran filsafat-nya Epik waktu semester 2 dulu. Ceritanya Epik disuruh dosennya Epik buat bikin cerpen yang menggambarkan selama ini pas ikut pelajaran filsafat itu apa yang Epik dapet.... jadi monggo baca ya~

Apabila ada nama, tempat, dan kejadian yang mirip, sesungguhnya itu hanya kebetulan belaka...

(Jika ingin meng-copy cerpen ini dengan alasan dan tujuan apa pun mohon meninggalkan comment untuk ijin. Meng-copy untuk tujuaan komersil sangat dilarang dan tidak diijinkan!!!)



-Angkuh Angkara-

Angkuh, sebuah kata yang bermakna ego besar dengan sedikit bumbu kesombongan. Andai kata "Angkuh" merupakan nama orang, pastilah orang itu sombong, sesombong namanya. Ah... Mengapa aku terlampau marxis. Tak seharusnya aku berpikir seperti itu. Tapi apa mau dikata, seumur hidup mungkin aku hanya mengenal satu orang yang bernama Angkuh dan aku rasa namanya memang sedikit banyak mencerminkan karakternya.

Angkuh Angkara, nama yang cukup berat jika dipikul seorang manusia biasa. Tapi menjadi tidaklah mengejutkan jika nama tersebut dipikul oleh seorang pria nomor satu di negeri yang ku tinggali. Ya... Angkuh Angkara adalah kepala negara yang menunggangi tahta sebuah negeri bernama Falsafah. Angkuh Angkara sesungguhnya kepala negara yang baik walau kadang aku berpikir dia agak berbeda. Menurutku tergolong orang yang frontal dan mungkin saja di masa mudanya dia suka pergi berdemo, sekali lagi itu hanya “mungkin”.

Sejujurnya aku tidaklah mengenal dirinya begitu dekat. Karena aku hanyalah seorang rakyat kecil yang merasa sedikit ilmunya dibanding dengan Angkuh Angkara. Sepengetahuanku, dia kepala negara yang cukup merakyat, terbukti dari beberapa kali aku memergokinya membaur dengan rakyat kecil dan dengan asyiknya dia memetik gitar kemudian mulai melantunkan irama-irama dangdut. Dalam hati aku terkekeh seperti rubah. Lucu sekali tingkah orang ini, sangat kontras sekali dengan peringainya saat berpidato, sekelebat dalam alam pikirku muncul bayangannya saat berpidato. Selain berbaur dengan rakyat kecil, dia sering terlibat kegiatan sosial dengan anak-anak jalanan yang kurang mampu. Tidak salah jika aku mengatakan bahwa dia kepala negara yang baikkan?. Hahaha bicara apa aku ini, seperti penganut postivisme saja, padahal mungkin saja ada maksud lain dibalik sikap baiknya.

Aku cukup sering mendengar celotehnya saat berpidato. Aku suka ketika  pidatonya menjadi sangat berwibawa, garang, dan berapi-api mengingatkan aku pada sosok seorang tokoh pahlawan negeri, benar-benar berkharisma. Tapi bagaimanapun dia adalah manusia bisa. Manusia biasa yang memiliki kelebihan dan sudah sangat pasti memiliki kekurangan. Aku sangat muak dan mengila ketika dia mulai bicara tinggi dengan gaya bahasa yang aku sendiri dan sebagian rakyat kecil susah untuk mencerna. Dalam setiap kata “tinggi” yang ia ucapkan, entah mengapa aku menemukan makna yang lebih condong kepada makna kesombongan daripada makna menggurui. Seperti ketika dia bercerita bahwa dia pernah memenangkan sebuah sayembara yang akhirnya menjadi titik nadirnya untuk berubah kehidupannya. Aku rasa titik nadir itu juga yang agaknya membuat dirinya mulai lupa daratan. Ada kesan melebih-lebihkan dalam dia bercerita, ada kesan sombong yang seolah membedakan kedudukanku dan rakyat kecil lain dengan dirinya, ada kesan bahwa aku dan rakyat kecil lainnya memang tidak pernah memenangkan sayembara apapun kecuali sayembara Tuhan dalam proses penciptaan kami, dan se­­jujurnya hal itu terkadang membuatku benar-benar muak. Suatu hari dia akan kena batunya, pikirku. Aku yakin itu tak akan lama lagi.

Ada seorang bijak  yang mengatakan bahwa di atas gunung masih ada gunung. Aku kira ada benarnya juga kata orang bijak itu, benar-benar persis dengan yang harus dialami Angkuh Angkara. Harus ada yang “menamparnya”. Jika tidak ada yang menamparnya maka akan sombonglah dia selamanya. Tuhan, tak perlulah Engkau ulurkan tangan-Mu untuk “menamparnya”, biarkan tangan-tangan kotor lain yang melakukannya.

***

Hari ini aku datang pada pidato mingguannya. Walaupun dapat dikatakan aku tak terlalu menyukai sikap “angkuhnya”, bukan berarti aku tidak ingin melihat aksinya dalam mengolah kata. Malah justru aku tidak pernah absen sekalipun dalam pertunjukan ini. Aku mengambil duduk beberapa deret dari belakang agar bisa mengamatinya dan mengamati reaksi rakyat kecil yang siap mendengar pidatonya. Sepertinya hari ini dia agak telat, hm… seperti biasanya.

Tak lama kemudian dia datang dengan kemeja putih dan celana berwarna hitam, lagi-lagi seperti biasanya. Kemudian dia mulai duduk, membuka handphonenya yang canggih, dan mempersiapkan diri untuk pidato. Setelah siap, dia mulai membuka pidatonya dengan pertanyaan-pertanyaan kecil untuk memancing rasa ingin tahu pendengarnya. Penbukaan yang cukup cerdas pikirku. Namun ketika mulai masuk ke inti pidatonya, lagi-lagi ia berceloteh mengenai prestasinya yang pernah dia raih. Aku tertarik tapi aku juga benar-benar muak. Alangkah sombongnya orang ini, pantas saja ketika dia berpidato beberapa rakyat kecil di bagian belakang berbisik-bisik. Tiba-tiba aku teringat beberapa beberapa teman sesama rakyat kecil menggunjingkannya dengan cukup kasar. Beberapa orang memperoloknya dengan sebutan-sebutan kasar,  menjulukinya, bahkan yang paling kasar adalah menghina dina fisiknya. Ah… aku benci sekali jika merambah olok-olok fisik. Walau aku tak menyukainya, kupingku cukup memerah mendengar perolokan tersebut. Bagiku tak pantaslah mengolok pemberian Tuhan. Jika Tuhan saja tak memperolok kekurangannya lalu pantaskah manusia biasa memperolok begitu saja?. Sok bijak sekali aku ini.

Di tengah aku melamun, dia mengutarakan sebuah ide.
“Bagi kalian rakyat kecil yang ingin mengikuti serta memenangkan sayembara, mari akan aku bagikan ilmu yang kupunya. Bentuklah grup agar aku bisa segera membagi ilmuku, ada yang berminat?” ucapnya.
Lalu aku melihat sebuah tangan melayang di udara. Tangan milik seorang anak kurus dengan potongan rambut yang hm… cukup aneh. Dia mengacungkan tangannya seolah ingin mengutarakan sesuatu.
“Aku… Aku tidak berminat!” serunya dengan lantang.

Hahaha bantinku. Menohok sekali ucapan anak ini, Begitu berani dan memang patut untuk diberi applause atas keberaniannya mengungkapkan pendapatnya, walau jujur tingkah lakunya kikuk dan aneh.

Aku kembali memperhatikan Angkuh Angkara. Aku ingin melihat ekspesi yang terpahat di wajahnya, mencari reaksi atas aksi telak anak tersebut. Meski hanya sedikit aku dapat menangkap raut terkejut dan merasa sedikit dipermalukan. Aku cukup menikmati ekspersi itu, sungguh konyol pikirku. Hahaha siapa aku, berani-beraninya memperolok orang yang seharusnyaku hormati. Tapi tak apalah, sekali-sekali aku ingin sedikit nakal dengan memperoloknya.

“aku ngga tanya” seru Angkuh Angkara dengan ekspresi aneh yang tak dapat ku gambarkan lagi.

Aku kembali memalingkan wajahku kepada anak lelaki tersebut. Dia tampak begitu marah dan dendam. Karena merasa dipermalukan oleh  Angkuh Angkara. Aku rasa ini bukan pertama kalinya dia dilecehkan, aku pikir pasti cukup sering.
***
Angkuh Angkara menenteng tas miliknya, lalu keluar ruangan pidato. Kemudian disusul oleh semburatnya rombongan rakyat kecil yang hadir dalam pidatonya. Anak lelaki itu menerobos rombongan rakyat kecil yang berhambur dan mendekati Angkuh Angkara. Aku dari jauh mengamati gerak gerik anak lelaki tersebut, aku mencium gelagat tak baik. Kucoba untuk sedikit bersabar menunggu pertunjukan apa yang akan terjadi setelah ini. Anak itu sedang berusaha mengajak bicara Angkuh Angkara. Namun tampaknya Angkuh sudah terlalu malas untuk menanggapi anak ini karena insiden sebelumnya. Merasa diacuhkan, anak ini tak puas terlihat dari raut mukanya yang menyimpan sesuatu. Rasanya aku sedikit ingat sosok anak lelaki ini. Aku rasa dia adalah anak lelaki yang sering dijadikan buah bibir rakyat kecil lain. Aku dengan anak itu memang sering terlibat masalah dengan orang-orang penting, tak heran jika kali ini dia berselisih paham dengan Angkuh Angkara. Toh... Angkuh memang sering mengacuhkan anak macam ini.

Ku lihat dari jauh, sepertinya ada perselisihan kecil di antara mereka. Sesuatu mengejutkan terjadi, anak yang agak aneh tersebut tiba-tiba saja mengambil sebuah gunting lalu menghujam-hujamkannya ke arah Angkuh Angkara. Ah... Pemandangan yang mengerikan, yang lebih mengerikan anak itu nampak tak merasa bersalah. Dia malah berteriak-teriak dengan lantang.

''rasakanlah makhluk sombong, pantas kau terima ini, teruslah abaikan aku, bodoh-bodohilah aku, kau kira rakyat kecil sepertiku memang sebodoh itu kan? Hahaha aku tak menusukmu, Angkuh! Aku hanya menusuk keangkuhanmu agar kau sadar! Hahaha" hanya nada puas yang terlontar. Sakit jiwa dia, batinku. Nampaknya anak itu tak gentar, tak takut, dan tak lari bahkan setelah menusuk Angkuh Angkara hingga terkapar. Menusuk Ke''angkuh''an Angkuh.

Aku terkejut, tapi sejujurnya ada benarnya anak ini. Menusuk keangkuhan angkuh, itu yang dia lakuan. Mematikan rasa angkuh dalam tubuh angkuh milik Angkuh. Bah... Makin rumit sekali rangkaian kataku.

Banyak orang mengerubung tubuh tak berdaya Angkuh yang bermandikan darah. Ada yang sedikit menertawakan, ada yang sangat syok, namun sebagian besar lebih banyak iba padanya. Aku hanya berujar dalam hati, ah... Bisa apa kau sekarang? Kalau sudah begini kau butuh siapa? Butuh orang lain nampaknya? Mana sombongmu Angkuh? Mana?. Angkuh Angkara, Pria nomor satu di negeri Falsafah hanya mengerang sambil memegangi lubang yang cukup besar di dada dan perutnya.

Anak lelaki itu tampak begitu puas, seolah seluruh dendam yang ia pendam selama ini sudah terpuaskan. Aku merasa aneh, mengapa tak ada yang mencoba menangkap anak ini. Semua orang hanya bergumam dan menatap Angkuh. Tak ada yang benar-benar mencoba menolongnya. Tak ada yang benar-benar mau bertindak. Aku kembali berpikir, mungkin saja memang harus ada yang membunuh keangkuhan Angkuh. Mungkin memang harus. Apabila rasa angkuh sudah begitu rekat dengan jiwanya, yah apa boleh buat. Jika memang jiwanya ikut terbawa pergi bersama rasa angkuhnya, aku pun tak begitu heran.

Aku mengambil headset dan mulai mendengarkan sebuah lagu dari mp3 playerku. Ah... aku rasa lagu “Just My Imagination” milik The Cranberries sesuai dengan kejadian hari ini. Karena aku sesungguhnya masih menganggap ini hanya imajinasi. hahaha terasa seperti mimpi. Mimpi yang begitu buruk. Untunglah ini bukan mimpi milikku.

Aku mengambil langkah pertama, mengayunkan kaki menjauhi keramaian. Cobaku abaikan sekitarku, sambil menarik jaket yang ku pakai, aku tersenyum kecil, lebih ke arah terkekeh. Hanya begini saja akhir kisah Angkuh Angkara, pikirku. Ah... Kurang seru... Batin ku, sambil terus menjauh.


-Selesai-



Tidak ada komentar:

Posting Komentar