Jumat, 18 Oktober 2013

The Boy In The Striped Pyjamas “Persahabatan yang Manis Anak Jerman dan Anak Yahudi”


Selamat Sore KIKOSer sekalian...
Epik akan me-review buku berjudul The Boy in The Striped Pyjamas (Anak Laki-laki Berpiama Garis-garis). Sebenernya sih novel ini ngga akan kerasa "greget" kalau dikasih spoiler atau dikasih sinopsis-nya. Kenapa kok gitu?. Pembaca ngga akan nemu efek kaget kalau udah tau sinopsis-nya. Maka dari itu Epik akan lebih berhati-hati me-review novel ini biar KIKOSer masih dapet "greget"-nya~
yuk cus~


Judul
The Boy In The Striped Pyjamas
Penulis
John Boyne
Genre
Novel Kemanusiaan
Penerbit
Gramedia
Jumlah Halaman
233
Tahun Terbit
Juli 2007 (cetakan pertama)


John Boyne
The Boy in The Striped Pyjamas bercerita mengenai persahabatan 2 anak lelaki beda bangsa yang terjebak dalam suasana perang dunia. Berlatar tahun 1943 dimana Jerman sedang "panas-panas-nya" mencoba jadi negara superior. Dengan tokoh utama bernama Bruno, seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun berkebangsaan Jerman, yang baru saja pindah ke Out-With (plesetan untuk Auschwitz) bersama ayah, ibu, dan Gretel (kakak perempuan-nya).

Ayah Bruno adalah seorang komandan militer yang baru mendapat tugas langsung dari The Fury (plesetan untuk Der Fuhrer a.k.a Adolf Hitler) sehingga membuat Bruno dan keluarga-nya terpaksa pindah ke Out-With. Ibu Bruno tidak terlalu menyukai tempat ini, ia merasa Out-With bukanlah tempat yang cocok untuk membesarkan anak-anak. Kakak Bruno, Gretel (Bruno menjuluki-nya Si Benar-Benar Payah) juga berharap mereka tidak akan tinggal lama-lama di tempat yang terpencil dan sepi seperti Out-With. Bruno sendiri juga berpikir sama. Rumah-nya di Berlin dulu lebih menyenangkan dengan pegangan tangga yang bisa dibuat prosotan dan mempunyai lima lantai dengan sudut-sudut tersembunyi tempat dulu ia berpetualang. Di Out-With benar-benar berbeda 180 derajat dengan Berlin. Bruno tidak lagi bisa bermain dengan Karl, Daniel, dan Martin (para sahabat Bruno di Berlin). Hal yang paling menyedihkan adalah Bruno tidak lagi bisa leluasa bertemu denga nenek-nya yang suka membuat drama kecil saat natal dan menyiapkan kostum keren untuk adegan drama tersebut.

Bruno bosan dengan hari-hari yang dilalui-nya dengan hanya les dengan Herr Liszt (si guru  yang suka dengan sejarah dan geografi tapi benci puisi dan drama), membaca buku cerita, dan diganggu Gretel. Apalagi sekarang ada Letnan muda bernama Kotler yang menyebalkan. Sikap-nya yang sok penguasa dan galak membuat Bruno muak. Dari semua itu yang paling Bruno benci adalah panggilan Letnan muda itu untuk-nya. "Bocah Kecil". "Huh... Siapa dia", pikir Bruno.

Meski membosankan, ada hal menarik dari rumah ini (terutama kamar di Bruno). Dari jendela kamar-nya yang tidak terlalu tinggi, Bruno dapat melihat tak terlalu jauh dari rumah-nya ada semacam pagar tinggi yang menjulang dan dibalik pagar itu ada banyak orang-orang berpiama garis-garis yang lalu lalang. Bruno sangat tertarik dengan apa yang mereka kerjakan di balik pagar dan mengapa mereka tidak pernah berkunjung ke rumah?.

Bruno bertanya kepada Gretel siapa orang-orang berpiama garis-garis itu. Gratel menjawab mungkin saja mereka adalah para peternak. Bruno tidak terlalu yakin dengan jawaban Gretel. Namun Bruno masih belum mendapat jawaban yang memuaskan dan jati diri orang-orang berpiama garis-garis itu masih menjadi misteri.

Bruno sangat suka drama dan membaca buku cerita. Ia sangat terkesan dengan cerita-cerita bajak laut yang menemukan harta karun atau orang-orang yang menemukan benua baru. Tetapi ada hal yang lebih membuat-nya lebih terkesan yaitu berpetualang. Bruno diingatkan untuk tidak menjelajah keluar rumah apa lagi sampai dekat-dekat dengan pagar tinggi itu dan Bruno tidak melanggar-nya, atau lebih tepatnya "belum" melanggar.

Suatu hari, saat ibu-nya tidur siang, Bruno menyelinap dan melakukan petualangan di sepanjang pagar tinggi. Ia tidak menemukan hal yang menarik, yang ia tahu hanya pagar ini membentang begitu panjang-nya sampai-sampai Bruno berpikir mungkin ujung dari pagar ini masih bermil-mil. Saat ia sudah mulai capek dan merasa petualangan-nya ini harus diakhiri, Bruno melihat titik kecil di pagar yang jauh. Bruno mendekati titik kecil itu. Lama kelamaan titik kecil itu berubah menjadi noda, noda berubah menjadi gumpalan, gumpalan berubah menjadi bayangan, dan bayangan akhirnya membentuk seorang anak lelaki yang duduk di balik pagar. Bruno menyapa anak itu. Anak itu membalas sapaan Bruno. Anak itu bertubuh kurus, kulit-nya berwarna keabu-abuan, mata-nya bulat besar berwarna karamel, dan ia memakai baju garis-garis. Bruno menanyakan nama anak itu. "Shmuel" jawab anak itu. Nama yang aneh, pikir Bruno.

Semenjak itu, Bruno selalu menghabiskan waktu dengan ngobrol bersama Shmuel. Lalu apakah persahabatan Bruno dan Shmuel akan berjalan meski kedua suku bangsa mereka berperang?. Baca sendiri yah KIKOSer~

Hua,,, (T  A   T)/
Sedih~
Kesan-kesan baca novel ini tuh perasaan kayak di-mixer… Campur aduk~ Persahabatan Bruno dan Shmuel ini bener-bener so sweet. Meski si Bruno masih ada kesan sombong dan ingin menang sendiri (maklum di rumah ia diajari kalau bangsa-nya the best of the best gitu), tapi dia masih punya rasa toleransi dan hati yang lembut. Dalam novel ini, Shmuel digambarkan sebagai anak lugu dan bikin pembaca jadi simpatik sama dia.

Tema yang diangkat sangat bagus (banget malah!). Saat KIKOSer baca mengenai kisah-kisah dibalik invasi Jerman terhadap kaum Yahudi pasti bakal tersentuh. Misal mengenai seorang pelayan Yahudi di rumah Bruno yang bernama Pavel. Ia jadi tukang kupas wortel dan kentang (sekaligus jadi pelayan yang nyiapin meja makan), padahal sebelum ada invasi Pavel ini adalah seorang dokter. Begitu juga Ayah Shmuel yang dulu-nya adalah pembuat jam yang handal, kini hanya bekerja di kamp. Kebayangkan seberapa destruktif-nya Jerman jaman Hitler terhadap kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya khusus-nya terhadap kaum Yahudi. Eits… Tapi nih mungkin emang selama ini Epik dan KIKOSer dicekoki pemahaman bahwa Jerman jaman Hitler itu seluruh orang-nya assh*le. Jadi secara ngga langsung pola pikir Epik dan KIKOSer membentuk rasa benci dan ngga suka dengan orang Jerman (jaman Hitler). Padahal KIKOSer, kalau dipikir-pikir lagi ngga mungkin semua orang Jerman jaman Hitler gitu semua, pasti masih ada orang macam Bruno yang punya hati baik dan benci perang. Inti-nya yang nama-nya perang itu ngga ada yang bakal membuat semua pihak bahagia. Camkan itu! (lah? Alay~).

Alur cerita-nya maju mundur (ada flashback-nya gitu) dan gaya bercerita-nya menyenangkan untuk dibaca. Meski novel ini bukan novel untuk anak kecil tapi gaya penuturan-nya itu kayak novel buat anak. Maksud-nya mudah dipahami, simple, dan ada unsur kekanak-kanakan terutama saat mendeskripsikan keinginan Bruno untuk pulang ke Berlin.
 
movie poster
Novel ini pernah difilmkan tahun 2008 dengan judul yang sama. Ibu Bruno diperankan oleh Vega Farmiga (as Lorraine Warren in The Conjuring) dan Bruno diperankan oleh Asa Butterfield (as Norman Green in Nanny Mcphee Return). Isi film-nya kurang lebih sama tapi tetep ada yang beda dengan novel dan juga sense-nya beda lo~. Di novel entah mengapa suasana-nya lebih suram gitu, semua orang seolah takut bicara, takut mengungkapkan perasaan, dan takut kena masalah. Sedangkan dalam film karakter semua tokoh lebih ceria. Bagus novel atau film?. Bagi Epik novel-nya lebih rinci tapi film-nya lebih gamblang. Epik saran’in sih mending KIKOSer baca novel dan nonton film-nya~ hahaha jadi bisa kasih komentar gimana cerita-nya. Dijamin KIKOSer bakalan suka :)


 Untuk download pdf The Boy in The Striped Pyjamas (versi Inggris) klik disini ya...

atau kalau ngga bisa, kunjungi:
http://www.4shared.com/document/_NgtORAU/The_Boy_In_The_Striped_Pajamas.htm



Referensi:
- http://www.imdb.com/title/tt0914798/
-link download terhubung dengan web: http://www.anderson5.net/ 

4 komentar:

  1. Aaa baru liat filmya aja sih, itu aja udah nangis mulu T.T, penasaran ama novelnya, pastinya ini lebih rinci yaa><

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Reyko... pembaca dituntut berimajinasi~
      lagi pula ending-nya agak sedikit beda...

      merujuk kepada komentar di imdb.com... ending versi film-nya agak alay~
      lebih masuk akal ending di novel... (nanti deh kalau ketemu Epik jelasin hahaha)

      -Epik-

      Hapus
  2. sama baru nonton filmnya doang..hehe sad ending
    wah ternyata sejarah bisa dijadikan cerita anak juga ya..walapun ceritanya sedikit kelam, epik ada juga cerita berlatar nazi tapi tokoh utamanya anak cewe yang berusaha nyebrang ke rumah neneknya ditengah perang berlangsung.. judulnya LORE coba cari deh filmnya.. atau udah nonton ? hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. belum nonton (O____O)/

      bisa dijadiin referensi nihhhh....
      makasih ya Shaddow :D

      -Epik-

      Hapus