Jumat, 24 Januari 2014

Tuesdays with Morrie “Kuliah Terakhir Sang Profesor yang Penuh Makna”



Selamat Malam KIKOSer~
Yah Epik tau ini udah larut malam, tapi ngga ada salahnya Epik membagi review'an buku buat KIKOSer kan :)
BTW, sebelumnya Epik sudah nge-review bukunya Mitch Albom yang The Five People You Meet In Heaven (untuk baca review'an tersebut klik Disini), nah sekarang Epik bakal nge-review buku lain dari Mitch yang berjudul 'Selasa Bersama Morrie' atau 'Tuesdays With Morrie'. Jadi dari pada lama-lama langsung baca ya~

Judul
Tuesdays With Morrie
Penulis
Mitch Albom
Genre
True Story
Penerbit
Gramedia
Jumlah Halaman
209
Tahun Terbit
Juli 2011 (cetakan ke-8)


Mitch Albom
Morrie Schwartz adalah profesor tua yang baik hati dan ramah. Ia hobi berdansa, berenang, jalan-jalan pagi, dan tentu saja mengobrol. Morrie juga merupakan salah satu pengajar favorit dari Mitch Albom (penulis buku ini), begitu pula sebaliknya, Mitch adalah mahasiswa  kesayangan Morrie. Mungkin bisa dikatakan mahasiswa favorit Morrie hingga akhir hayatnya...

Pada musim panas tahun 1994, Morrie menerima kabar buruk yang sebetulnya ia sudah rasakan jauh sebelum menerima kabar ini. Morrie dan Charlotte (isterinya) pergi ke dokter (banyak dokter) untuk mengetahui penyakitnya. Dokter-dokter menyarankan mereka untuk memeriksakan penyakit Morrie tersebut ke ahli syaraf dan mereka mendapati bahwa Morrie menderita ALS (amyotrophic lateral sclerosis) atau disebut juga penyakit Lou Gehrig, sebuah penyakit yang juga diderita Stephen Hawking (seorang fisikawan). ALS menyerang seluruh otot tubuh yang membuat penderita kehilangan kendali atas otot. Penderita menjadi lumpuh sedikit demi sedikit dan sayangnya penyakit mematikan ini belum ditemukan obatnya. Sebelum dinyatakan terkena ALS, Morrie sudah terkena asma bahkan pada suatu hari ia pernah merasa seperti saat udara dingin berhembus ketika ia sedang jalan-jalan pagi. Beberapa tahun kemudian Morrie mulai sulit berjalan. Bahkan saat menghadiri pesta ulang tahun temannya, ia terjatuh tanpa alasan. Morrie juga pernah jatuh di tangga teater dan ternyata inilah alasannya.

Morrie berpikir berapa lama lagi sisa waktunya?. Tapi Morrie tidak mau menyerah begitu saja terhadap penyakit ini. Morrie terus melanjutkan kegemarannya jalan-jalan meski kegiatan tersebut semakin sulit dilakukan. Tak habis akal, ia membeli tongkat untuk membantunya berjalan. Ia juga masih suka berenang meski ia mulai kesulitan berganti pakaian, tak habis akal Morrie kemudian mengupah seorang mahasiswa teologi untuk menolongnya menanggalkan pakaian dan membantunya masuk serta keluar kolam. Morrie tidak berhenti mengajar meski ia kesulitan berjalan menuju kampus tempat ia mengajar yang berada di puncak bukit.

Suatu hari setelah cukup terengah-engah berjalan menuju kelasnya, Morrie duduk di atas kursi dan menatap seluruh mahasiswa yang telah menunggunya. Ia berkata “Sahabat-sahabatku, aku yakin kalian semua hadir di sini untuk mengikuti mata kuliah Psikologi Sosial. Aku telah mengajar mata kuliah ini selama dua puluh tahun, dan baru pertama kali aku ini aku harus mengatakan bahwa kalian beresiko dengan mengambil mata kuliah ini, karena aku menderita suatu penyakit mematikan. Hidupku mungkin tak akan sampai akhir semester ini. Apabila menurut kalian ini bisa mendatangkan masalah, aku mengerti bila kalian ingin membatalkan mata kuliah ini.” lalu ia tersenyum.

Disisi lain, Mitch Albom, sang mahasiswa, sedang menapaki dunia karirnya yang semakin menanjak. Setelah lulus kuliah, Mitch mencoba banyak pekerjaan. Seperti bermain musik, membentuk grup band, berpindah-pindah dari New York sampai Florida, namun semuanya tidak cukup sukses. Hingga akhirnya Mitch mendapatkan pekerjaan di Detroit sebagai penulis kolom olahraga di sebuah koran. Kemudian tak hanya menjadi penulis kolom, Mitch mulai menulis buku-buku mengenai olahraga, menjadi tamu di radio dan televisi, dan yang paling utama Mitch merasa dibutuhkan. Seiring dengan peningkatan popularitasnya, Mitch mulai membeli rumah, beberapa buah mobil, saham, dan menikahi kekasihnya yang telah 7 tahun ia pacari. Sampai suatu hari Mitch menonton acara Nightline.

Jum’at malam bulan Maret 1995, Mitch tidak sengaja menonton Nightline setelah menganti-ganti channel tv. Acara yang dibawakan oleh Ted Koppel tersebut menampilkan sosok Morrie, sang professor kesayangan Mitch. Saat itu Morrie sudah duduk di kursi roda, kakinya lumpuh total, makan menjadi hal yang berat untuknya, namun Morrie tidak mau menyerah. Pemikiran-pemikiran baru muncul di kepala Morrie dan ia mencatatnya menjadi untaian kata-kata bijak yang menginspirasi. Mitch mendadak mati rasa saat mendengar Ted Koppel berkata “Siapa Morrie Schwartz?”.

Mitch sadar bahwa ia telah mengingkari janji kepada Morrie. Pada saat upacara kelulusan dulu, ia pernah berjanji kepada Morrie bahwa mereka akan terus berhubungan. Mitch memberikan Morrie sebuah tas yang bertuliskan nama Morrie pada bagian depannya dan kemudian ia dipeluk oleh Morrie. Mitch melihat Morrie menitikan air mata saat melepas pelukannya.

Mitch kemudian mengunjungi rumah Morrie di Massachusetts. Morrie menyambutnya dengan ramah dan hangat. Morrie berkata “Sahabatku, akhirnya kau datang juga” sambil merengkuh lalu mengguncang-guncang tubuh Mitch dipelukannya. Tubuh kurus Morrie berada di kursi roda, ia mengenakan baju hangat serta selimut untuk menutupi kakinya meski saat itu adalah musim semi yang hangat. Mitch terkejut dengan keakraban yang diberikan Morrie kepadanya. Sudah sejak 16 tahun sejak ia terakhir bertemu Morrie dan ia benar-benar menyesal tidak menjadi mahasiswa yang baik seperti dalam kenangan Morrie.

Mereka berdua berbincang lama dan meski Mitch tidak menyadari sebenarnya mereka telah memulai kuliahnya. Sejak saat itu seminggu sekali yakni setiap hari Selasa Mitch selalu mengunjungi Morrie dan mendapatkan banyak sekali hal dari Morrie. Mereka bercakap-cakap mengenai dunia, budaya, penyesalan, kematian, keluarga, emosi, uang, cinta, maaf, dan masih banyak lagi.

Buku yang menginspirasi! Serius, ngga bo'ong. Baru halaman ke-10 Epik udah bercucuran air mata… Bukan karena kasihan tapi karena terharu…  Setelah baca buku ini, Epik jadi menyadari berbagai hal dan Epik merasa bersyukur diberi Allah S.W.T. rezeki terutama rezeki kesehatan yang melimpah... Pokoknya ini buku yang ngga boleh dilewatkan oleh KIKOSer…

Sosok Morrie ini keren. Awesome banget!. Tidak munafik bahwa ia terkadang merasa sedih dengan kondisinya. Ia juga tidak ragu untuk menangis saat ia merasa berat. Tetapi kemudian ia bisa bangkit lagi dan berusaha memberi inspirasi untuk orang lain untuk tidak menyerah. Morrie juga memiliki pemikiran-pemikiran berbeda yang bikin pembacanya ikut merenung. Misal ia mengadakan upacara ‘pemakaman’-nya sebelum ia meninggal. Alasaannya saat Morrie menghadiri upacara pemakaman temannya ia merasa sedih. Semua orang membacakan puisi dan kata-kata indah untuk temannya yang telah meninggal tersebut tapi sayangnya temannya tidak dapat lagi mendengarkan puisi dan kata-kata indah. Maka dari itu Morrie memiliki gagasan untuk mengadakan upacara pemakaman agar ia dapat mendengarkan kata-kata indah dari teman-temannya.

Epik salut sama Morrie yang tidak malu dengan keadaannya. Morrie tidak sungkan untuk bertanya kepada kerabat atau teman yang mengunjunginya bersedia untuk membantunya mengubah posisi kepalanya atau bahkan membantunya untuk buang air kecil. Ia berpendapat mengapa harus malu? jika membutuhkan bantuan mintalah saja… Mungkin selama ini kita semua (termasuk Epik) kadang sok kuat dan ngga ingin dibantu gara-gara ngga mau dibilang manja. Tapi Morrie mengajarkan bahwa jika kita ada dititik dimana kita memang butuh bantuan orang lain maka jangan sungkan untuk memintanya. Karena manusia adalah mahkluk sosial yang memang tidak bisa hidup sendiri.

Buku ini mengajarkan banyak nilai hidup yang berharga. Syukuri nikmat yang KIKOSer masih punya sekecil apapun itu… Kesehatan yang melimpah, keluarga yang menyayangi, makanan yang bisa dinikmati hari ini, dan banyak lagi. Karena jika suatu hari kenikmatan itu hilang yang tertinggal adalah penyesalan…

Wajib baca buku ini ya KIKOSer, setelah baca semoga hati serta pikiran KIKOSer tersentuh dan terinspirasi oleh kisah Morrie... (^___^)



Web Resmi:



2 komentar:

  1. kisah morrie ini mengingatkan kita pada ibu een sukaesih yah.. yang beberapa bulan kebelakang beritanya sering muncul di TV.., ini novel atau kisah nyata epik ? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya iya mirip Bu Een... intinya tetap ingin memberi orang lain manfaat meski kondisi fisiknya sudah tidkak sempurna lagi...

      Buku ini dari kisah nyata... BTW, bukunya Mitch Albom banyak yang bagus lo... menginspirasi gitu~

      -Epik-

      Hapus