Senin, 13 Januari 2014

Perbedaan Mora dan Silabis Dalam Bahasa Jepang


Selamat Pagi KIKOSer~ Pagi-pagi buta gini Epik mau membagi info mengenai linguistik bahasa Jepang nih... Sebenernya ini tugas pengantar linguistik bahasa Jepang semester kemarin dan baru sadar kalau belum ter-upload. Nah dalam fonetik bahasa Jepang itu ada yang namanya mora dan silabis. Untuk tau apa itu mora dan silabis, baca ya~



Di dalam fonetik atau dalam bahasa Jepang disebut on’inron (音韻論) terdapat  mora dan silabis. Keduanya memang hampir sama sehingga sering kali ada kekeliruan menyamakan silabis dan mora (ketukan).

Mora yang dalam bahasa Jepang disebut haku () secara harafish diartikan sebagai ketukan atau tepukan tangan (clapping hands). Sedangkan silabis atau dalam bahasa Jepang disebut onsetsu (音節) yang diartikan sebagai suku kata. Terdiri dari dua Kanji yaitu on (: dibaca: ong) yang berarti suara dan setsu () yang bisa berarti kesempatan (atau mungkin lebih tepatnya adalah jeda). Silabis dapat dipahami sebagai pemenggalan kata.

“Setiap bunyi dalam bahasa Jepang jika ditulis dengan huruf Kana (Hiragana atau Katakana) kecuali you-on (kya, kyu, kyo dst.), setiap satu huruf-nya dianggap sebagai satu mora” (Dedi Sutedi, 2008: 39). Maksud dari kata diatas adalah satu huruf Kana dihitung satu mora bahkan juga you-on juga meski terdiri dari 2 huruf Kana. Cara menghitung mora dalam kata adalah menghitung berdasarkan jumlah huruf Kana yang dipakai pada kata.

Satuan mora dalam bahasa Jepang terdiri dari struktur mora yang dicontohkan dalam buku karangan Dedi Sutedi adalah sebagai berikut:
/V (R)/
[あ、い、う、え、お]{a,i,u,e,o} termasuk bunyi panjang
/CV/
[か、き、く、け、こ]{ka,ki,ku,ke,ko} dan sebagainya
/CSvV/
[きゃ、きゅ、きょ]{kya,kyu,kyo} dan sebagainya
/SvV/
[や、ゆ、よ、わ]{ya,yu,yo,wa}
/Q/, /N/
[っ、ん]{Q}konsonan rangkap, dan {N} di akhir kata

Keterangan:
V: Huruf Vokal (a.i,u,e,o)
R: Bunyi panjang
C: Huruf Konsonan (k,g,s,z,t,d,c,n,h,p,b,m,r)
Sv: Semi Vokal (w,j)
Q: konsonan rangkap (contoh: kappa)
N: akhir kalimat (contoh: mikan)

Cara menghitung silabis tidak tergantung dengan jumlah huruf Kana yang ada dalam kata, melainkan pemenggalan saat mengucap kata. Jumlah huruf Kana dalam satu suku kata tidak selalu sama, terkadang satu suku kata terdiri antara satu huruf Kana atau lebih. Silabis sendiri tidak memperdulikan panjang pendek suku kata karena panjang atau pendek suku kata akan tetap dihitung satu silabis. Contohnya dalam kata gyuunyuu (ぎゅうにゅう) yang berarti susu sapi terpenggal dalam dua suku kata yaitu gyuu dan nyuu. Karena itu kata gyuunyuu dihitung memiliki dua silabis. Struktur dari silabis berbeda dengan mora. Dalam buku Dedi Sutedi dicontohkan sebagai berikut:
V
[あ、い、う、え、お]{a,i,u,e,o}
VN
[あん、いん、うん、えん、おん]{an,in,un,en,on}
VQ
[あっ、おっ、えっ]{a’,o’,e’}
VR
[ああ、いい、おう、おお、]{aa,ii,uu,ou,oo}
CV
[か、さ、た]{ka,sa,ta}
CVN
[かん、さん]{kan,san}
CVQ
[かっ、さっ]{ka’,sa’}
CVR
[かあ、きい]{kaa,kii}
SvV
[や、ゆ、よ、わ]{ya,yu,yo,wa}
SvVN
[やん、ゆん、よん、わん]{yan,yun,wan}
SvVQ
[よっ、ゆっ]{yo’,yu’}
SvVR
[やあ、よう、ゆう]{yaa,you,yuu}
CSvV
[きゃ、きゅ、きょ]{kya,kyu,kyo}
CSvN
[きゃん、きゅん]{kyan,kyun}
CSvQ
[きゃっ、きょうっ]{kya’,kyou’}
CSvR
[きょう、きゅう]{kyou,kyuu}

Sebagai contoh perbandingan mora dan silabis adalah sebagai berikut. Dalam kata byouin (びょういん) yang berarti rumah sakit terdapat empat mora yaitu byo-u-i-n (びょ---). Silabisnya berjumlah dua silabis yaitu byou dan in (びょう-いん). Hasilnya adalah kata byouin memiliki empat mora dan dua silabis. Dalam kata biyouin (びよういん) yang berarti salon kecantikan terdapat enam mora yaitu bi-yo-u-i-n (----) dan memiliki tiga silabis yaitu bi-you-in (-よう-いん). Terlihat sekali bahwa jumlah mora tergantung dengan jumlah huruf Kana dalam sebuah kata, sedangkan silabis tidak memperdulikan jumlah huruf Kana tetapi yang terpenting adalah pemenggalan kata.

Perbedaan lain dari mora dan silabis adalah jumlah strukutur. Jumlah struktir mora lebih sedikit dibanding dengan struktur silabis. Selain itu jumlah mora bisa melebihi atau bahkan sama dengan jumlah silabis dalam satu kata. Namun jumlah silabis tidak akan pernah melebihi jumlah dari mora.

Kesimpulannya mora dan silabis memiliki konsep yang berbeda. Mulai dari cara menghitung hingga jumlah struktur berbeda.

Daftar Pustaka:

Sutedi, Dedi. (2008). Dasar-dasar Linguistik Bahasa Jepang. Bandung: Humaniora.
Dahili, Drs. Ahmad, MA, & Drs. Sudjianto, M. Hum. (2009). Pengantar Linguistik Bahasa Jepang. Jakarta Pusat: Kesaint Blanc
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar