Yak, Epik mau ikut-ikutan Reyko nih mulai bikin cerpen nih... hehehe Cerpen Epik kali ini berjudul "Rian" dan jika ada nama, tempat, atau kejadian yang mirip sesungguhnya itu hanya kebetulan belaka... Karena cerpen ini murni karangan aja kok, gak tau kenapa tiba-tiba Epik yang menggalau bikin cerpen ini. Jadi silahkan aja langsung menikmati. (Jika ingin meng-copy cerpen ini dengan alasan dan tujuan apa pun mohon meninggalkan comment untuk ijin. Meng-copy untuk tujuaan komersil sangat dilarang dan tidak diijinkan!!!)
Ikhlas. aku rasa adalah kata yang mudah untuk diucapkan. Namun sejujurnya ikhlas adalah hal yang paling berat untuk dilakukan. Secara teori memang mudah meminta orang lain untuk mengikhlaskan sesuatu. Tapi ketika kamu atau aku dihadapkan oleh situasi dimana kamu atau aku diminta untuk ikhlas. Apakah itu semudah saat kamu atau aku meminta orang lain untuk ikhlas?.
Ikhlas. aku rasa adalah kata yang mudah untuk diucapkan. Namun sejujurnya ikhlas adalah hal yang paling berat untuk dilakukan. Secara teori memang mudah meminta orang lain untuk mengikhlaskan sesuatu. Tapi ketika kamu atau aku dihadapkan oleh situasi dimana kamu atau aku diminta untuk ikhlas. Apakah itu semudah saat kamu atau aku meminta orang lain untuk ikhlas?.
Aku duduk
lantai teras rumahku. sambil bersandar pada dinding kulipat lututku dan kupeluk
erat. Kutumpukan wajahku pada lututku sambil merunduk. Air mata terus mengalir
diiringi sesenggukan dan tarikan nafas yang tersendat-sendat. Handphone-ku terus bergetar dan
berkedip-kedip di samping tempatku terduduk sekarang. Aku tidak tertarik melongoknya
sama sekali. Di kepala berkecamuk banyak pikiran-pikiran yang sungguh membebani.
Alasanku
menangis bukan karena aku sedang merasakan sakit atau karena sedang putus
cinta. Tapi karena kabar yang barusan ku terima lewat telepon. Bimo menelponku,
ia memberi kabar mengenai keadaan Rian. Aku memiliki perasaan tidak enak ketika
suara Bimo mulai bergetar ketika menyebutkan nama Rian di telepon.
"Maaf
Sya, Rian..." ia berhenti cukup lama
setelah mengucapkan nama Rian, seolah tidak kuasa menyebutkan apa yang
terjadi pada Rian. Hidungku mulai merasakan sensasi tusukan jarum dan
pandanganku mulai kabur akibat air mata yang menggenang.
"Rian
ngga selamat Sya" terdengar suara isak dari Bimo yang aku tahu memang
merupakan sahabat dekat Rian.
Air mata
mulai menetes, membuat pandangan mataku menjadi sedikit lebih jelas. Aku
menatap pot bunga milik ibuku lekat-lekat tapi pikiranku melayang-layang.
Tuhan, bangunkan aku dari mimpi buruk ini Tuhan!. Aku memejamkan mata
kuat-kuat, membuat ekspresi mengkerut-kerut di tengah wajahku. Aku tersadar
bahwa ini memang bukan mimpi. Sesenggukan kecil muncul dari bibirku. Aku mulai
meringkuk dan merapatkan diri ke dinding teras rumah. Sesekali kusebut nama
Rian dalam tangisanku. Di dalam pikiranku yang melayang-layang, otakku memutar
kembali setiap kenangan yang pernah kulalui bersama Rian. Terutama saat aku
terakhir kali melihat sosok Rian.
***
"Aku
besok mau penelitian, Sya" kata Rian dengan mantap sambil terus mengunyah
nasi goreng yang sudah setengah piring dihadapannya.
"penelitian
apa Yan?" kataku penasaran.
"Buat
tugas kuliah tentang pencemaran" Jawabnya sambil kembali menyendokan
sesuap nasi goreng ke dalam mulutnya.
"mau
penelitian kemana Yan? Ujan-ujan gini lo" kataku melirik ke arahnya yang
duduk di samping kiriku.
"di
kali Brantas. Kan pencemarannya parah tuh... Nah Aku sama Bimo ada rencana
penelitian secepatnya biar bisa cari solusi cepet, kan tema penelitianku sama
Bimo buat cari solusi ngurangin pencemaran" Dia membetulkan posisi
duduknya di atas kursi plastik yang agak kurang seimbang di atas trotoar
paving.
"Yah...
Sama Bimo lagi? Kamu ni kalau sama Bimo aja semangat banget... Inget ujan
Yan... Kalau keterjang air bah baru tau rasa ntar!"
"Idih
air bah apa'an Sya... Ngarang! Ini es teh pesenanku mana nih?" kata Rian
sambil celingak-celinguk ke arah tukang nasi goreng.
"Mas,
es teh-nya belum" aku berteriak ke arah tukang nasi goreng. Si tukang nasi
goreng mengangguk dan segera menyuruh istrinya membuat es teh pesanan Rian.
"Jadi
kapan mau berangkat penelitian?" tanyaku. Aku menyeruput es teh dari
sedotan sambil memandangi Rian.
"Lusa
kali, soalnya udah di ACC sama Pak Sujono"
"oh...
Ati-ati aja Yan"
"Cie...
kenapa kok khawatir gitu? ntar kalau aku pergi jangan kangen ya... hahaha"
Rian tertawa karena berhasil menggodaku. Pipiku memerah tapi aku berusaha
menyembunyikannya dengan ikut tertawa.
"idih
apa'an... ogah kangen sama kamu" jawabku asal-asalan.
"bener
loh ya! Awas kalau sampe nangis-nangisin aku" kata Rian sambil
menunjuk-nujukku dan terus senyum-senyum. Ketika aku menatap senyuman Rian saat
itu, entah mengapa aku berpikir bahwa itulah senyuman termanis milik Rian.
Lusa,
Rian ternyata benar-benar berangkat ke sungai Brantas untuk penelitian bersama
Bimo dan tim-nya. Rian berjongkok di depan ban sedangkan aku membantu memasukan
beberapa barang kecil ke dalam mobilnya. Di dalam mobil ternyata sudah ada
Citra dan Dika, teman penelitian Rian selain Bimo. Citra tersenyum kepadaku
ketika aku menatapnya. Aku pun membalas senyuman Citra. Sedangkan Dika cuek
bermain i-pad. Aku segera mendekati Rian yang sedang memeriksa ban.
"Lho?
Citra jadi ikut Yan?" tanyaku.
"iya,
katanya dia udah sehat dan pingin ikut penelitian ke Brantas" jawab Rian.
"oh...
Ngga gitu... katanya sempet tipes gitu,
kira’in ngga jadi ikut" kataku acuh.
Sebenarnya
aku memiliki perasaan yang kurang enak terhadap kepergian Rian dan
kawan-kawannya ini. Tapi aku berdo'a semoga mereka baik-baik saja dan
penelitiannya sukses. Rian melakukan pengecekan terakhir dan setelah semua siap
ia membuka pintu pengemudi. Setelah masuk ia menutup pintu dan menyalakan mesin.
Bimo duduk di samping Rian yang mengemudi.
"Ati-ati
ya Yan" kataku berdiri mendekat ke kaca mobil yang terbuka. Eh belum
sempat Rian menjawab, Bimo sudah menyeletuk.
"iya
iya beh hahaha" satu mobil pun tertawa mendengar celetukan Bimo.
Aku cuma
tertawa masam. Ku lepas kepergian Rian dan kawan-kawan hari itu sambil menekan
kuat-kuat rasa khawatir.
Malamnya
Rian menelponku. Ia mengabarkan bahwa ia dan kawan-kawan sampai tujuan dengan
selamat. Hatiku cukup lega mendegar suara Rian yang sedari tadi siang sudah
kutunggu-tunggu kabarnya.
"Sya...
Udah kangen aku belum?" tanyanya tiba-tiba setelah kami kehabisan bahan
pembicaraan.
"hahaha
baru juga tadi siang ketemu Yan"
"kali
aja udah kangen, soalnya aku kangen banget nih sama kamu hahaha" canda
Rian. Lalu terdengar suara Bimo dari kejauhan yang menyeletuk
"I
miss you bebeh Nisya... Hahaha"
"huss...
Apa'an sih Mo... Sana'an ah... Minggir sono" terdengar suara Rian yang
mencoba mengusir Bimo.
"Biarin
Yan... Bimo kan emang udah gila dari dulu" kataku pura-pura menenangkan
Rian.
"Iya,
nih anak emang kurang kerja'an... Sampe mana tadi? Oh iya... Eh... Jaga'in Utel
ya Sya" Utel itu kura-kura Brazil peliharaan kesayangan Rian.
"bukanya
ada si Rani yang jaga'in Utel ya?" tanyaku.
"Rani
mah gak bisa dipercaya Sya... Kalau inget aja dikasih makan, kalau ngga ya
dibiarin gitu aja. Tuh anak sama kayak Bimo, sama-sama nyebelin"
"eh
Rani tu kan adikmu juga Yan"
"biarin"
"iya
deh, ntar aku rawat Utel. Demi kamu..."
"hahaha...
Pake demi aku lagi, udah ya... Ini hapeku lowbat
mau aku charge dulu... Besok siang
aku telpon deh... Da..."
"iya...
Da..."
Entah
mengapa suara Rian malam itu terasa begitu lembut dan menentramkan hatiku.
Malam-nya aku bermimpi Rian menemuiku sambil membawa Utel di tangan kiri dan
membawa bunga di tangan kanannya. Aku bilang ke dia buat apa bawa bunga segala.
Dia bilang pingin jadi cowok romantis. Aku tertawa. Rian tertawa.
Siangnya
telpon dari Rian yang kutunggu tak kunjung datang. Padahal dia sudahku telpon
berkali-kali bahkan sudahku sms berkali-kali juga tapi tidak ada balasan dari
Rian. Aku mengira mungkin Rian masih
sibuk melalukan penelitian. Jadi aku pikir tidak ada gunanya menelpon Rian
lagi, malah bisa-bisa aku mengganggu penelitiannya. Aku pun menghabiskan sisa
sore itu dengan tiduran di sofa sambil mendengar musik dari MP3.
Aku
terbangun saat tiba-tiba handphone-ku
bergetar. Aku sedikit terkejut mungkin karena aku ketiduran, juga karena handphone tersebut ada di kantung
celanaku. Suasana rumah ternyata sudah gelap. Handphone-ku masih bergetar. Aku mengira itu pasti telpon dari
Rian. Aku buru-buru duduk sambil merogoh kantung celanaku berusaha mengambil handphone yang terjepit di kantung. Aku
melihat layar handphone-ku tertera
nama Bimo disana. Sepersekian detik sebelum menempelkan handphone pada telingaku berpikir mengapa Bimo yang telpon aku?.
"Halo,
Mo? Ngapain telpon Aku?" tanyaku bingung.
"Halo...
Nisya? Halo?" Suara Bimo terdengar putus-putus. Selain itu terdengar suara
ribut-ribut dan suara gaduh seperti suara hujan di belakang suara Bimo.
"Halo...
Bimo? Putus-putus Mo... Aku ngga denger" kataku.
"Sya...
Sekarang gimana? Kedengaran?"
"iya
mo... Udah ngga putus-putus lagi. Ngapain telpon Mo?"
"gini...gini...
Sya... Dengerin aku dulu... Aku mau nyampai'in kabar Rian"
"kenapa
Rian ngga telpon sendiri aja?" tanyaku mulai curiga karena sepertinya
telah terjadi sesuatu yang tidak baik.
"Sya,
Rian terseret arus pas pengecekan lapangan tadi sore. Dia ngga pakai pelampung
dan sampai jam 7 ini masih belum ketemu" Jawab Bimo terdengar sedikit
bergetar mungkin karena panik atau khawatir.
"Kok
bisa Mo?" tanyaku pada Bimo.
"Gini
Sya, tadi sore awalnya Rian dan aku ditemani pak Marno penduduk daerah Brantas
berencana pergi ke Brantas untuk sekedar melakukan pengecekan lapangan. Kami
bertiga naik sampan. Nah tiba-tiba Citra ngotot ikut. Kita udah bilang jangan,
tapi dia maksa. Pelampung yang pak Marno punya cuma tiga aja. Akhirnya Rian
ngalah ngasih pelampungnya ke Citra. Kita terus berangkat. Pas kira-kira jam
lima'an hujan turun terus kayak ada air bah gitu nerjang sampan. Sampannya
oleng terus kebalik. Aku, Rian, Citra, sama pak Marno masuk ke air. Terus
karena cuma Rian yang ngga pakai pelampung, dia ngga bisa ngapung terus diseret
air. Sampe sekarang Rian belum ketemu."
"Ya
Allah! Kok bisa Mo..." Aku mulai menangis. Tanganku gemetar dan jantungku
berdebar kencang.
"Kamu
do'ain aja biar Rian selamat... Kamu ngga usah khawatir Sya... Rian pasti
selamat!" Kata Bimo menenangkanku.
"Tapi
Mo, Brantas itu sering makan korban nyawa. Gimana aku ngga khawatir Mo" jawabku
sesengukan.
"InsyaAllah
Rian selamat Sya... Do'ain aja Rian selamat"
***
Disinilah
aku sekarang duduk memeluk kakiku. Aku merasa seolah ini mimpi dan aku tidak
bisa bangun dari mimpi ini. Tiba-tiba aku merasakan sentuhan di pundak kananku.
Setuhan lembut yang hangat. Ku tengok samping kananku, mama memelukku hangat.
Kujatuhkan tubuhku dalam pelukan mama. Mama pun memelukku semakin erat.
"Ma...
Rian Ma..."
"sttt...
sudah... Sudah Sya" mama membelai rambutku yang kusut dengan lembut.
"Tuhan...
Kenapa harus Rian ya Tuhan?" kataku sambil terus memeluk mama.
"Nisya...
Nisya ngga boleh bilang gitu... Mungkin ini sudah waktunya Rian kembali
kesisi-Nya. Nisya harus kuat"
"Tapi
kenapa Nisya yang kehilangan Rian ma?"
"Karena
Tuhan tau kalau Nisya yang paling kuat. Tuhan tau kalau hanya Nisya yang mampu
menjalani ini semua"
"Nisya
ngga bisa ma..."
"dengar
kata mama Sya. Kamu harus ikhlas. Cinta Tuhan terhadap Rian lebih besar dari
pada cinta kamu terhadap Rian... Nisya harus ikhlas ya nak ya..."
Aku masih
terus menangis. Tapi kata-kata mama merasuk dalam kepala dan hatiku. Mungkin
awalnya sangat berat untukku. Bagaimanapun aku harus sadar, tidak ada guna
menyesali kepergian Rian. Secara fisik, Rian memang tidak akan pernah kembali
lagi. Tapi yang aku tahu, aku masih punya satu hal yang membuatku dapat kuat
bertahan. Yaitu kenagan dari setiap kejadian yang pernah kami miliki
bersama-sama. Meski aku tak dapat menyentuh fisiknya, tapi kenangan tentang
Rian tidak akan pernah mati dari hati dan pikiranku. Terima kasih Rian...
Terima kasih atas setiap kenangan yang pernah kita ciptakan bersama... Kini aku
akan mengikhlaskanmu....
Waahhh Cieee Epik uda mulai menjadikan aq inspirasi,.Whahahah ayoo semangat buat nulis^^
BalasHapus